BUDAYA POLITIK PRANCIS DAN PENGARUH PEMILU PILPRES TERHADAP UNI EROPA
Konsep budaya politik:
Konsep budaya politik berpusat pada imajinasi (pikiran dan perasaan) yang
membentuk aspirasi,harapan,prefensi, dan prioritas tertentu dalam menghadapi
tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan sosial politik.
Budaya politik Prancis:
Budaya politik Perancis sendiri dekat dengan prinsip
sekularisme dan nasionalisme yang berkembang di Perancis, bahwa rakyat Perancis
sangat mengagumi sejarah bangsanya di Eropa. Namun, di lain sisi nasionalisme
di Perancis tidak ditunjukkan dengan perayaan seperti di Indonesia, hal ini
dikarenakan sejarah dan rasa trauma rakyat Eropa akan kemunculan nasionalisme
yang seringkali menyebabkan perang di zaman dahulu,Budaya berpolitik masyarakat
perancis secara individu yang unik branggapan bahwa calon pemimpin yang memiliki
pesona serta kemampuan meyakinkan masyarakat perancis dapat dipercaya dan
dipilih untuk memimpin perancis menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Pilpres prancis dan Uni eropa:
Baru baru ini fenomena pilpres di perancis menyita perhatian dunia khususnya
Uni Eropa karena salah satu calon presiden Marine Le Pen yang sangat
ultra nasionalis yang memiliki cita-cita dan tujuan apabila dia menang dalam
pilpres kali ini dia akan berusaha membuat perancis keluar dari Uni Eropa,
kebijakan tersebutlah yang membuat Uni Eropa sangat tidak mendukung kebijakakan
yang disuarakan oleh Le Pen.berbeda hal dengan oposisinya yaitu Emmanuel Macron
yang lebih bersifat netral dan tidak menginginkan Perancis keluar dari uni
eropa, [1]Paris - Calon presiden moderat Emmanuel Macron telah
dipastikan memenangi pemilihan presiden Prancis, berdasarkan hasil proyeksi,
setelah pemungutan suara, Minggu (7/5).
Macron mengalahkan kandidat presiden dari sayap kanan,
Marine Le Pen dengan perolehan suara 65.5% banding 34,5%. Pada usia 39 tahun,
Macron sekaligus menjadi presiden termuda Prancis.
Saat ini, Macron juga akan menjadi presiden pertama dari
dua kubu partai lama sejak tahun 1958. Mantan menteri ekonomi ini mengatakan
bahwa satu halaman baru sedang berubah dalam sejarah Prancis."Saya ingin
menjadi sebuah halaman harapan dan kepercayaan baru," katanya, Macron beranggapan bahwa
keluarnya Perancis dari UE tidak akan menbawa dampak yang baik bagi negara
Perancis, bahkan malah memperkeruh hubungan kerjasama perancis dengan negara
negara UE.Emmanuel Macron berpeluang besar dalam memenangkan pilpres karena dia
didukung oleh berbagai pihak termasuk dukungan dari capres yang kalah, Francois
Fillon dan Benoit Hamon dan para politikus yang ada di Uni Eropa. Macron unggul
dalam menyurakan kebijakan-kebijakan yang mengatasnamakan rakyat dan macron
juga mengomentari kebijakan Le Pen yang anti imigran, Salah satu proposal Le
Pen jika terpilih adalah menyelenggarakan referendum untuk keluar dari UE. Le
Pen mendesak agar UE mengembalikan seluruh kedaulatan kepada negara anggota,
termasuk dalam hal kebijakan ekonomi, mata uang, dan pengawasan perbatasan. Ia
juga mengusulkan ”toleransi nol” terhadap kriminalitas dengan menambahkan
15.000 polisi dan menerapkan pajak yang lebih tinggi bagi pekerja asing. Namum
kemenangan yang telah diraih oleh macron memberikan angin segar terhadap
para petinggi politik di Uni Eropa Marcon mencatatkan dirinya dalam sejarah
kepresidenan Prancis. Dengan usia 39 tahun, Marcon mencatatkan dirinya sebagai
presiden termuda Prancis sejak masa kepemimpian Napoleon Bonaparte Menurut dia,
pemilu yang berlangsung pun menjadi tonggak sejarah baru untuk Prancis karena
pengaruh yang luar biasa dapat terjadi untuk beberapa tahun kedepan,
kemenangannya pun disambut baik oleh para pendukung nya serta masyarakat,
macron pun berjanji akan menjadi pihak tengah yang akan mendukung serta membuat
hubungan antara kubu kanan serta kubu kiri di perancis menjadi lebih baik dan
akur sehingga dapat bersama sama membangun dan memajukan negara perancis
menjadi lebih baik.
sumber;
http://www.beritasatu.com/eropa/429403-hasil-pilpres-prancis-macron-kalahkan-le-pen.html
dasar-dasar ilmu politik/ prof .miriam
budiarjo/edisi revisi.cetakan kedua/gramedia 2008


Komentar
Posting Komentar