Pemeran Pendukung (part II)
Jam menunjukan pukul 20:45, dihari yang sama dan tanggal yang sama. Tak sengaja aku melakukan tindak kejahatan pada diri ku sendiri lagi, kubiarkan diri ini menyaksikan bagaimana dia menunjukan kebahagiaanya dengan pria yang menjadi teman barunya didalam layar kaca yang selalu ku pegang. Berbahagia dengan menciptakan kata-kata seakan lupa bahwa dia bersama ku juga sebelumnya. Aku tak menyangka bahwa diri ku begitu lemah akan informasi tentangnya, aku tak menyangka bahwa masih sangat besar rasaku sehingga tidak rela melihatnya dengan yang lain. Mengingatkan ku akan kebersamaan empat tahun dengan dirinya dan dalam dua tahun trakir masa kritis hubungan ini, namun tak pernah sedikitpun dia menunjukan diriku di dalam konten pribadinya.
Begitu malukah dirimu?, segitu tidak pantaskah fisik ku bersanding denganmu!. Sakit yang luar biasa kurasakan namun tidak membuatku heran dan terkejut awalnya, hanya kecewa akan apa yang ternyata masih kurasa. Ku berbaring dilantai ku yang dingin, seakan memberikan aku sebuah pundak yang nyaman namun keras tubuhnya. Menatap meja abu-abuku dimana masih tergelatak dengan baik hadia darinya serta foto dia dengan kucingnya sambil berpeluk mesra berdua. Mata ku juga tertarik melihat gantungan baju ku yang tersusun rapih disampingnya, dimana masih terlihat jelas kemeja yang dia belikan untuk diriku sebagai rasa terima kasihnya kepadaku karena telah datang kedalam hidupnya memberikan warna baru katanya",. Entah kenapa menyidiri disini terasa sangat damai, didalam kamar ku yang sepi walau agak sedikit pengap dengan struktur tembok yang tebal. Namun disini aku merasakan kenyamanan & kehangatan dengan seutuhnya, aku bisa menjadi diriku tanpa harus takut. Ini adalah tempat suci ku untuk mencari jawaban dari setiap masalah yang pernah aku alami sehingga dapat mengucap "YaTuhann apa kah salahku?". Air mata yang keluar tanpa henti, hingga terasa perih dibelakang kepala apakah ini efek karena aku kurang darah atau memang efek dari aku memukul kepala.
Terbalut basahnya air mata wajah ini, hanya berharap dapat bertemu dengannya dan bertanya, mengapa aku harus merasakan ini semua? sebegitu pantasnyakah aku merasakan ini!. Sebegitu teganya kau melakukan ini!. Menangis namun ku buntu, ku menangis namun semakin hampa. Butuh waktu tiga puluh menit bagiku untuk dapat menenangkan diri serta menutup keran yang ada di dalam mata ini. Terus bertanya kepada diri sendiri, bukankah ini memang yang aku cari? ketenangan diri sendiri disaat aku bersamanya, dan kebebasan dari rasa sakit saat menatap wajahnya. Aku kembali mengakses memori ku tentangnya, teringat jelas dengan diam hanya dapat menatap matanya. Ketakutan luar biasa untuk mengekspresikan apa yang kurasa sehingga tak bisa terucap satu katapun didepanya. Walau aku mengetahui segala tindakan dan apa yang telah dia lakukan kepadaku. Bukan kah ini yang aku minta didalam sanubari ku disaat melihat segala kebenaran ini?. Tapi mengapa aku merasa sangat tersakiti, tanpa bersyukur bahwa doa ku masih didengar olehnya.

Komentar
Posting Komentar